Ilmu dan Harta
ilmu akan menjagamu,
sedang harta harus kau jaga
ilmu takkan pernah tercuri,
sedang harta mudah tercuri
ilmu itu abadi,
sedang harta akan musnah
ilmu akan menyinari hati,
sedang harta akan mengeraskan hati
jika ilmu dipergunakan akan bertambah ,
tetapi harta dipergunakan akan hilang
pemilik ilmu punya banyak teman,
sedang pemilik harta punya banyak musuh
pemilik ilmu akan selalu disebut mulia dan terhormat,
sedang pemilik harta akan disebut pelit dan rakus
pemilik ilmu akan dimuliakan walaupun sedikit ilmunya,
sedang pemilik harta disebut besar setelah banyak hartanya
ilmu itu warisan para Nabi,
sedang harta warisan Qorun
pemilik ilmu akan diberi syafaat di akhirat,
sedang pemilik harta akan dihisab.
(Sayyidina Ali bin Abi Tholib Radiyallahu Anhu)
KATA PENGANTAR
Sahabat, Kita Harus Pintar!
“kekayaan yang paling besar adalah ilmu”
Ali bin Abi Thalib
Sahabat, apa yang memberatkanmu untuk belajar? Padahal kau tahu betapa pentingnya belajar, betapa pentingnya menjadi pintar. Tapi kenapa kau malas-malasan dan tak mau meng-investasikan waktumu untuk belajar? Ah, sahabat, coba lihatlah sekelilingmu, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tak seberuntung kita. Kita tidak bisa menutup mata terhadap pendidikan di Indonesia yang masih belum merata dengan ketidakadilan. Banyak orang yang masih terbelenggu pendidikan, tapi anehnya ada juga yang merasa nyaman dengan kondisinya, tidak perduli dengan pendidikan, dan pasrah terhadap keadaannya yang tidak bisa memperoleh pendikakan.
Tapi yang paling membuat kecewa dan prihatin adalah kita yang telah terfasilitasi dan dapat memperoleh pendidikan yang layak ini, tapi tidak dapat memanfaatkannya dengan baik bahkan menyia-nyiakannya. Kadang betapa kita tidak dapat bersyukur terhadap apa yang kita dapatkan. Seandainya mereka (yang terbelenggu pendidikannya) memperoleh fasilitas seperti kita entah akan menjadi seperti apakah mereka? Akankan menjadi lebih baik ataukah menjadi seperti kita yang lalai terhadap nikmat yang telah diberikan?
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin (Seyakin-yakinnya) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.
At Takaatsur (1-8)
Sahabat, tampaknya ada satu lagi yang membuat heran. Tampaknya ada yang kurang tepat dengan pola pikir kita tentang belajar dan bahkan terkadang kita tak menyadarinya. Kita sering berpikir bahwa belajar itu hanya terbatas pada kegiatan transfer ilmu dalam suatu ruangan di dalam gedung sambil memperhatikan guru atau sekali-sekali melakukan diskusi. Padahal hakikat belajar bukanlah seperti itu.
Ada sebuah cerita menarik yang bisa menjadi bahan renungan. Konon, pada zaman dahulu kala, para pelajar Indonesia dikirim ke eropa untuk belajar. Di sana mereka belajar di gedung-gedung yang membuat mereka terpesona. Nah, begitu kembali ke Indonesia mereka pun ikut-ikutan membangun “gedung”. Saat itulah dimulainya konsep “gedung sekolahan”.
Faktanya, di Indonesia, tidak belajar di dalam gedung juga tidak menjadi masalah. Indonesia cuma punya 2 musim. Musim hujan dan musim kemarau saja. Dengan didirikan gubuk saja sudah cukup untuk bisa belajar. Yang penting terlindung dari panas dan hujan. Kalau di eropa, pantas saja kalau belajarnya dilakukan dalam gedung. Karena tak seperti gubuk yang rentan terhadap perubahan cuaca, gedung lebih tahan terhadap perubahan cuaca yang ada di eropa yang notabene adalah negeri 4 musim. Bukankah kita orang indonesia bisa belajar walau hanya di sebuah gubuk? Bukankah belajar di alam terbuka itu lebih asyik dan menyenangkan daripada belajar di dalam gedung?
Sahabat, bukankah belajar itu bisa dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja? Bukankah belajar tak terbatas ruang dan waktu? Bukankah belajar bukan hanya terbatas dari buku-buku dan guru-guru saja? Bukankah makna belajar lebih luas daripada itu?
Sahabat, bukankah kita dapat belajar setiap saat, setiap waktu, bersama detik-detik waktu yang kita lalui? Ingatkah kau tentang umat-umat terdahulu yang belajar dari alam dengan segala keterbatasannya? Yah, karena itulah inti dari belajar. Bukankah inti dari belajar sebenarnya memang bukanlah untuk menambah ilmu pengetahuan saja? Bukankah belajar adalah untuk perubahan? Bukankah percuma kita belajar jika tidak ada yang berubah?
Sahabat, selamat belajar, selamat berubah! Semoga kita dapat merenungi hikmah di balik semua peristiwa yang pernah kita lalui. Karena itulah belajar yang sejati.
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : yaa Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka periharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Ali Imran : 190-191)