Kamis, 29 Desember 2011

oktober itu


Oktober itu..

Baru kemarin rasanya tali yang tersampir di toga ini dipindahkan letaknya, dari kiri ke kanan. Tapi ternyata pengalaman itu sudah lewat hampir 3 bulan lamanya.mungkin buat sebagian orang event semacam itu disikapi biasa-biasa saja, berbeda dengan aku yang menyikapinya sebagai hal yang luar biasa.

Betapa tidak, aku menunggu momen seperti itu bertahun-tahun lamanya dan baru terwujud ketika aku berada di angka 23. Bukan  itu saja, untuk melaksanakan ritual seperti itu tidaklah mudah, memerlukan perjuangan yang sangat berliku.(ada edisi khusus untuk cerita ini)

Tapi kini setelah oktober 2011 itu aku lalui seakan dunia ini ingin bicara tentang kepastian dan kenyataanya, dia ingin bicara “selamat datang di permainanku kawan” sambil mengangkat bibirnya yang sinis.

Awalnya dengan rasa percaya diri aku menjawab sambutanya itu dengan tegas tanpa ragu, “oke, dengan mudah aku akan menaklukkanmu dunia” bahkan masih sempat juga aku menantangya dengan menuliskan slogan besar-beasr agar dia tau siapa aku, “hai kau, dengar. Ini aku putra ayahku, berikan padaku sesuatu yang besar untuk ku taklukkan, beri aku mimpi yang tak mungkin, karena aku belum menyerah, tak kan pernah menyerah, tak kan pernah..”(andrea.red )

Hmm...mungkin saat ini kenyataan sedang menertawakanku terpingkal-pingkal hingga jatuh terguling-guling melihat aku yang sedang tak berdaya duduk termenung sendiri sambil sesekali mengangkat kepala untuk melihat kekiri kekanan cemas. Sambil berkata, “hi kau, mana bukti dari omong besarmu! Aku disini menuggu lawan yang sepadan, bukan pemimpi yang tak tau apa yang harus di perbuat!!..”

Sayangnya, aku belum memiliki tenaga dan modal yang cukup untuk mebalas tantanganya saat ini. Tapi perlu kau tau kawan, diamku bukan berarti aku menyerah dan mengaku kalah sama dunia yang congkak ini, aku hanya masih mengumpulkan tenaga yang cukup dan memaksimalkan usahaku untuk kemudian aku dengan bebas ‘menginjak-injaknya’ sesuka dan sekehendak hatiku, dan ingin kuajari dia menjadi ciptaan yang sesuai dengan kodratnya, di kendalikan oleh kita MANUSIA!

Jumat, 23 Desember 2011

puisi-aku tidak tau artinya apa


Aku tidak tau apa artinya

Sosok indah bukan dari bola matanya
Juga bukan dari daun telinganya
Atau dari fisik secara keseluruhanya
Bukan juga dari kepribadianya

Aku cari yang indah dari senyumnya,
Tapi aku juga tidak menemukanya
Aku amati caranya bicara
Tapi aku tidak juga menemukan yang istemewa

Lalu apa,
Aku krenyitkan dahiku tinggi-tinggi kesini-kesana
Sambil sekali-kali membayangkan dan mencari-cari kelebihanya
Hmmmm..tapi lagi-lagi aku tidak menjumpainya

Aneh,justru  karena itu semua
Aku dibuatnya tak berdaya
Kadang aku berpikir jangan-jangan ini karma
Tapi karma karena dosa apa?

Bayangkan saja, karnanya aku rela melakukan apa saja
Aku hanya ingin selalu melihat senyumnya terjaga
Aku hanya ingin melihatnya bahagia
Aku hanya ingin melihatnya selalu merona

Aku tidak ingin melihat mimpinya surut
Aku tak ingin melihat harapanya kusut
Aku tak ingin melihatnya kalut
Semua itu, aku tidak tau apa artinya?


Malang,23 desember 2011

Sabtu, 17 Desember 2011

mimpi


Even in this world where we can never say what’s in our hearts
I will never hide my dreams and i’ll live my own life
Even in this world where we can never really live our slightest dreams
I will keep on going, i will keep on doing my thing

Jalan Mimpi
Banyak hal yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Peristiwa-peristiwa yang kita alami, misteri-misteri alam yang sulit untuk diungkapkan, rahasia jiwa dan alam gaib yang tak terjangkau oleh pikiran manusia.
Kadang aku berpikir bahwa  segala sesuatu itu terjadi karena kebetulan belaka, tapi perenungan dan hatiku mengajarkan padaku bahwa tidaklah ada sesuatu yang kebetulan. Semua hal selalu kait mengit dan tersusun secara sempurna dan diatur dengan cermat dan teliti, tanpa ada satu pun kesalahan. Hidup ini juga seperti itu. Berbagai peristiwa, kejadian yang kita alami tidaklah kebetulan dan bukanlah tanpa makna. Semuanya telah tercatat di Lauh mahfudz, catatan yang hanya Tuhan Yang Maha Besarlah yang Maha Tahu. 

Rambut yang tertiup angin, keringat yang jatuh, semuanya dicatat secara sempurna, tidak ada yang luput dari perhatian Allah, Tuhan Semesta Alam. 

Begitu juga mimpi ini, entah yang mana yang telah tercatat di kitabNya. Yang manakah yang akan menjadi kenyataan?? Hanya Dialah yang Maha Mengetahui ..

Walaupun di dunia ini mimpi tak mudah diwujudkan
Walaupun di dunia penuh dengan kegagalan

Aku tak akan membuang mimpiku
Aku tak akan mengabaikan apa yang teah aku perjuangkan

Walau orang berkata apa
Selama tak melangar aturan Tuhan
Akan terus kuperjuangkan

Aku tak mau terjebak kata2 manipulasi dan kebohongan
Aku akan mengikuti kata hatiku. 




Jumat, 16 Desember 2011

hanya ilmu yang bisa merubah diri kita


Ilmu dan Harta


ilmu akan menjagamu,
sedang harta harus kau jaga

ilmu takkan pernah tercuri,
sedang harta mudah tercuri

ilmu itu abadi,
sedang harta akan musnah

ilmu akan menyinari hati,
sedang harta akan mengeraskan hati

jika ilmu dipergunakan akan bertambah ,
tetapi harta dipergunakan akan hilang

pemilik ilmu punya banyak teman,
sedang pemilik harta punya banyak musuh

pemilik ilmu akan selalu disebut mulia dan terhormat,
sedang pemilik harta akan disebut pelit dan rakus

pemilik ilmu akan dimuliakan walaupun sedikit ilmunya,
sedang pemilik harta disebut besar setelah banyak hartanya

ilmu itu warisan para Nabi,
sedang harta warisan Qorun

pemilik ilmu akan diberi syafaat di akhirat,
sedang pemilik harta akan dihisab.

(Sayyidina Ali bin Abi Tholib Radiyallahu Anhu)
KATA PENGANTAR

Sahabat, Kita Harus Pintar!

“kekayaan yang paling besar adalah ilmu”
Ali bin Abi Thalib
Sahabat, apa yang memberatkanmu untuk belajar? Padahal kau tahu betapa pentingnya belajar, betapa pentingnya menjadi pintar. Tapi kenapa kau malas-malasan dan tak mau meng-investasikan waktumu untuk belajar? Ah, sahabat, coba lihatlah sekelilingmu, masih banyak sahabat-sahabat kita yang tak seberuntung kita. Kita tidak bisa menutup mata terhadap pendidikan di Indonesia yang masih belum merata dengan ketidakadilan. Banyak orang yang masih terbelenggu pendidikan, tapi anehnya ada juga yang merasa nyaman dengan kondisinya, tidak perduli dengan pendidikan, dan pasrah terhadap keadaannya yang tidak bisa memperoleh pendikakan.
Tapi yang paling membuat kecewa dan prihatin adalah kita yang telah terfasilitasi dan dapat memperoleh pendidikan yang layak ini, tapi tidak dapat memanfaatkannya dengan baik bahkan menyia-nyiakannya. Kadang betapa kita tidak dapat bersyukur terhadap apa yang kita dapatkan. Seandainya mereka (yang terbelenggu pendidikannya) memperoleh fasilitas seperti kita entah akan menjadi seperti apakah mereka? Akankan menjadi lebih baik ataukah menjadi seperti kita yang lalai terhadap nikmat yang telah diberikan?
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. sampai kamu masuk ke dalam kubur janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin (Seyakin-yakinnya) kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.
At Takaatsur (1-8)
Sahabat, tampaknya ada satu lagi yang membuat heran. Tampaknya ada yang kurang tepat dengan pola pikir kita tentang belajar dan bahkan terkadang kita tak menyadarinya. Kita sering berpikir bahwa belajar itu hanya terbatas pada kegiatan transfer ilmu dalam suatu ruangan di dalam gedung sambil memperhatikan guru atau sekali-sekali melakukan diskusi. Padahal hakikat belajar bukanlah seperti itu.
Ada sebuah cerita menarik yang bisa menjadi bahan renungan. Konon, pada zaman dahulu kala, para pelajar Indonesia dikirim ke eropa untuk belajar. Di sana mereka belajar di gedung-gedung yang membuat mereka terpesona. Nah, begitu kembali ke Indonesia mereka pun ikut-ikutan membangun “gedung”. Saat itulah dimulainya konsep “gedung sekolahan”.
Faktanya, di Indonesia, tidak belajar di dalam gedung juga tidak menjadi masalah. Indonesia cuma punya 2 musim. Musim hujan dan musim kemarau saja. Dengan didirikan gubuk saja sudah cukup untuk  bisa belajar. Yang penting terlindung dari panas dan hujan. Kalau di eropa, pantas saja kalau belajarnya dilakukan dalam gedung. Karena tak seperti gubuk yang rentan terhadap perubahan cuaca, gedung lebih tahan terhadap perubahan cuaca yang ada di eropa yang notabene adalah negeri 4 musim. Bukankah kita orang indonesia bisa belajar walau hanya di sebuah gubuk? Bukankah belajar di alam terbuka itu lebih asyik dan menyenangkan daripada belajar di dalam gedung?
Sahabat, bukankah belajar itu bisa dimana saja, kapan saja, dan dari siapa saja? Bukankah belajar tak terbatas ruang dan waktu? Bukankah belajar bukan hanya terbatas dari buku-buku dan guru-guru saja? Bukankah makna belajar lebih luas daripada itu?
Sahabat, bukankah kita dapat belajar setiap saat, setiap waktu, bersama detik-detik waktu yang kita lalui? Ingatkah kau tentang umat-umat terdahulu yang belajar dari alam dengan segala keterbatasannya? Yah, karena itulah inti dari belajar. Bukankah inti dari belajar sebenarnya memang bukanlah untuk menambah ilmu pengetahuan saja? Bukankah belajar adalah untuk perubahan? Bukankah percuma kita belajar jika tidak ada yang  berubah?
Sahabat, selamat belajar, selamat berubah! Semoga kita dapat merenungi hikmah di balik semua peristiwa yang pernah kita lalui. Karena itulah belajar yang sejati.
“sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : yaa Tuhan kami, tiadalah engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka periharalah kami dari siksa neraka.”
(QS. Ali Imran : 190-191)